Ada satu pertanyaan yang hampir selalu saya ajukan ketika memulai sesi coaching produktivitas.
“Apa yang paling membuatmu sulit menyelesaikan pekerjaan yang penting?”
Jawabannya beragam. Ada yang merasa pekerjaannya terlalu banyak. Ada yang mengeluhkan rapat yang tidak pernah selesai. Ada pula yang mengatakan bahwa notifikasi WhatsApp membuat hari kerjanya terus terpotong.
Namun kalau diperhatikan lebih dalam, hampir semua jawaban itu bermuara pada kesimpulan yang sama: mereka merasa tidak punya cukup waktu.
Saya memahami perasaan itu. Bahkan beberapa tahun lalu, saya juga percaya bahwa akar dari sebagian besar masalah produktivitas adalah manajemen waktu. Semakin baik seseorang mengatur kalendernya, semakin besar peluangnya untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
Keyakinan itu perlahan berubah setelah saya mulai lebih sering mendampingi mahasiswa, profesional, supervisor, hingga para pemimpin tim dari berbagai industri. Semakin banyak percakapan yang saya lakukan, semakin saya melihat pola yang berulang. Mereka bukan orang yang malas. Mereka juga bukan orang yang tidak kompeten. Sebagian besar justru bekerja sangat keras. Masalahnya, pekerjaan yang benar-benar penting sering kali tenggelam di tengah begitu banyak aktivitas yang menuntut perhatian mereka.
Di situlah saya mulai menyadari bahwa persoalan produktivitas hari ini mungkin bukan lagi tentang kekurangan waktu. Persoalan yang sebenarnya adalah perhatian kita semakin mudah berpindah dari satu hal ke hal lain.
Ketika Kesibukan Terasa Sama dengan Produktivitas
Beberapa waktu lalu saya meminta salah seorang peserta coaching untuk mencatat seluruh aktivitasnya selama dua hari. Bukan hasil pekerjaannya, melainkan apa saja yang benar-benar ia lakukan dari pagi hingga sore.
Awalnya ia yakin catatan itu akan membuktikan bahwa pekerjaannya memang terlalu banyak. Tetapi setelah kami membacanya bersama, kami justru menemukan sesuatu yang berbeda.
Dalam satu jam, ia bisa membuka dokumen presentasi, lalu berpindah ke WhatsApp karena ada pesan yang dianggap penting. Belum selesai membalas, muncul email yang langsung dibuka. Setelah itu ia kembali ke presentasi, tetapi beberapa menit kemudian membuka LinkedIn karena ada notifikasi. Semua perpindahan itu berlangsung sangat cepat sehingga hampir tidak terasa.
Kalau dilihat sekilas, ia memang bekerja sepanjang hari. Namun ketika kami mencoba menghitung berapa lama ia benar-benar fokus mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi, waktunya ternyata jauh lebih sedikit daripada yang ia bayangkan.
Percakapan itu mengingatkan saya pada sesuatu yang sering terjadi pada banyak orang. Kita mengira sedang bekerja terus-menerus, padahal sebagian besar energi justru habis untuk berpindah perhatian.
Produktivitas Sedang Mengalami Pergeseran
Selama bertahun-tahun kita diajarkan bahwa produktivitas identik dengan kemampuan mengatur waktu. Kita belajar membuat daftar pekerjaan, menyusun prioritas, menggunakan kalender digital, bahkan membagi hari ke dalam blok-blok waktu tertentu.
Semua itu tetap penting. Saya sendiri masih menggunakan sebagian besar teknik tersebut.
Namun dunia kerja sudah berubah. Tantangan terbesar hari ini bukan lagi bagaimana menemukan waktu untuk bekerja, melainkan bagaimana menjaga perhatian agar tetap berada pada pekerjaan yang memang layak mendapatkan energi terbaik kita.
Pemikiran inilah yang mengingatkan saya pada buku Deep Work karya Cal Newport. Ia menjelaskan bahwa kemampuan untuk bekerja tanpa distraksi pada tugas yang bernilai tinggi akan menjadi salah satu keunggulan paling penting di abad ini. Ketika saya pertama kali membaca bagian itu, saya menganggapnya sebagai teori yang menarik. Tetapi setelah melihat pola yang sama berulang kali dalam berbagai sesi coaching, saya justru merasa bahwa teori itu sedang terjadi di depan mata.
Dunia Tidak Kekurangan Informasi. Dunia Berebut Perhatian.
Kalau kita melihat cara teknologi berkembang hari ini, sebenarnya tidak sulit memahami mengapa fokus menjadi semakin mahal.
Setiap aplikasi ingin kita tinggal lebih lama. Notifikasi dirancang agar menarik perhatian. Video berikutnya diputar otomatis. Beranda media sosial tidak pernah benar-benar habis. Bahkan ketika kita hanya berniat membalas satu pesan, sering kali lima belas menit berlalu tanpa kita sadari karena perhatian sudah dibawa ke berbagai arah.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa teknologi adalah musuh. Teknologi telah membantu pekerjaan kita menjadi jauh lebih mudah.
Yang perlu kita sadari adalah model bisnis sebagian besar platform digital memang bergantung pada perhatian kita. Semakin lama kita berada di sana, semakin besar nilai yang mereka peroleh. Artinya, kalau kita tidak secara sadar menjaga fokus, akan selalu ada sesuatu yang siap mengambilnya.
Yang Membuat Kita Lelah Sering Kali Bukan Pekerjaannya
Ada penelitian yang dilakukan Sophie Leroy mengenai attention residue. Ia menemukan bahwa ketika seseorang berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, sebagian perhatian akan tetap tertinggal pada tugas sebelumnya. Akibatnya, meskipun secara fisik kita sudah mengerjakan hal baru, secara mental kita belum benar-benar hadir.
Semakin saya mempelajari penelitian itu, semakin saya memahami mengapa begitu banyak profesional yang datang ke sesi coaching dalam keadaan lelah. Bukan karena mereka bekerja terlalu sedikit atau terlalu banyak, tetapi karena sepanjang hari mereka hampir tidak pernah memiliki ruang untuk berpikir secara utuh. Energi mental mereka habis bukan untuk menciptakan sesuatu, melainkan untuk terus menyesuaikan diri dengan distraksi yang datang silih berganti.
Mungkin inilah alasan mengapa seseorang bisa menghabiskan sembilan jam di depan laptop, tetapi tetap merasa belum menghasilkan pekerjaan yang benar-benar penting.
Fokus Adalah Cara Kita Menciptakan Nilai
Kalau ada satu pelajaran yang paling sering saya bawa pulang dari berbagai sesi coaching, pelajaran itu sederhana. Orang-orang yang memberikan dampak terbesar bukan selalu mereka yang bekerja paling lama. Mereka adalah orang-orang yang tahu kapan harus berhenti merespons segala sesuatu, lalu memberikan perhatian penuh pada pekerjaan yang memang layak mendapatkan energi terbaiknya.
Saya percaya produktivitas hari ini bukan lagi soal melakukan lebih banyak hal dalam waktu yang sama. Produktivitas adalah kemampuan menciptakan nilai dari perhatian yang kita miliki.
Karena itu, mungkin pertanyaan yang perlu kita renungkan bukan lagi, “Bagaimana saya bisa mengatur waktu dengan lebih baik?” Pertanyaan yang lebih relevan adalah, “Apa yang selama ini paling banyak mengambil perhatian saya, tetapi tidak benar-benar memberi nilai?”
Sering kali jawaban atas pertanyaan itu menjadi titik awal perubahan yang jauh lebih besar daripada sekadar memiliki kalender yang lebih rapi.
Kalau kamu menemukan insight dari tulisan ini, bagikan di media sosial dan mention saya di @danielgurusinga. Bisa jadi refleksi ini membantu orang lain yang sedang mencoba mengambil kembali kendali atas perhatiannya.
Salam hangat,
Daniel Gurusinga
Productivity Coach & Sales Trainer
Newsletter
Dapatkan informasi menarik seputar selling, pengembangan diri, dan produktivitas melalui email. Gratis!




