Awalnya Hanya Ingin Melihat Sebentar
Sering kali semuanya dimulai dengan niat yang sederhana.
Hanya ingin melihat update terbaru. Membuka LinkedIn untuk mencari insight industri. Membuka Instagram untuk melihat tren. Atau sekadar ingin “refresh” setelah menyelesaikan satu tugas.
Sebentar saja, pikir kita.
Namun yang sering terjadi berbeda. Lima menit berubah menjadi dua puluh. Dua puluh menjadi hampir satu jam. Dan ketika layar akhirnya ditutup, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan benar-benar segar. Bukan juga benar-benar puas.
Hanya sedikit lelah.
Fenomena ini dikenal sebagai doomscrolling—kebiasaan menggulir layar tanpa henti, terutama pada konten yang memancing emosi atau rasa penasaran. Aktivitas ini terasa ringan, tapi menyita perhatian dalam jumlah besar.
Yang menarik, doomscrolling jarang terasa seperti keputusan sadar. Ia lebih sering terjadi secara otomatis.
Profesional dan Ilusi “Sedang Belajar”
Dalam sesi coaching, saya sering mendengar kalimat seperti ini:
“Saya buka media sosial untuk cari inspirasi.”
“At least saya tetap update dengan tren.”
“Saya perlu tahu apa yang kompetitor lakukan.”
Di permukaan, ini terdengar logis. Dunia profesional memang menuntut kita untuk terus belajar dan adaptif. Namun ada perbedaan tipis antara belajar yang disengaja dan konsumsi yang tidak terarah.
James Clear dalam Atomic Habits menjelaskan bagaimana kebiasaan kecil terbentuk dari siklus sederhana: isyarat, keinginan, respons, dan hadiah. Notifikasi menjadi isyarat. Rasa penasaran menjadi keinginan. Menggulir layar menjadi respons. Dan sensasi menemukan sesuatu yang baru menjadi hadiah.
Siklus ini terjadi begitu cepat hingga kita tidak menyadarinya.
Masalahnya, otak tidak membedakan antara informasi yang bermakna dan yang sekadar menarik. Setiap hal baru memberi sedikit dopamin. Setiap konten yang memicu emosi memberi sensasi kecil yang menyenangkan.
Seperti camilan mental.
Namun camilan tidak selalu memberi nutrisi.
Otak yang Dirancang untuk Terus Menggulir
Dalam Deep Work, Cal Newport menulis bahwa perhatian adalah aset yang semakin langka di era digital. Platform dirancang bukan untuk memberi kita kedalaman, tetapi untuk mempertahankan atensi selama mungkin.
Algoritma tidak peduli apakah kita menjadi lebih bijak. Yang penting kita tetap tinggal.
Setiap kali kita menemukan konten baru, otak melepaskan dopamin dalam jumlah kecil. Bukan ledakan besar, tapi cukup untuk membuat kita ingin menggulir satu kali lagi. Dan satu kali lagi.
Doomscrolling pada dasarnya adalah kombinasi antara desain teknologi dan kebutuhan biologis kita akan stimulasi.
Kita merasa sedang beristirahat, padahal otak terus bekerja menerima rangsangan baru.
Ironisnya, semakin banyak stimulus yang kita konsumsi, semakin sulit kita masuk ke kondisi fokus yang dalam. Pikiran menjadi reaktif, terbiasa pada perubahan cepat, dan kehilangan toleransi terhadap pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi panjang.
Ketika Jeda Berubah Menjadi Penghindaran
Yang jarang disadari, doomscrolling sering muncul bukan saat kita santai, tetapi saat kita menghadapi tugas yang menantang.
Ada laporan yang harus dirampungkan. Proposal yang perlu disusun. Keputusan strategis yang membutuhkan kejernihan.
Di titik itu, membuka media sosial terasa seperti jeda yang wajar.
Namun jeda yang tidak terkelola perlahan berubah menjadi penghindaran.
Kita tidak benar-benar beristirahat. Kita juga tidak benar-benar bekerja. Kita berada di ruang abu-abu. Aktif secara visual, tapi pasif secara produktif.
Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow menjelaskan bahwa otak kita cenderung memilih jalur yang lebih mudah dan instan. Menggulir layar jauh lebih ringan dibanding menyusun strategi atau menulis laporan panjang.
Otak tidak mencari yang paling bermakna. Ia mencari yang paling mudah.
Tanpa kesadaran, kita mengikuti arus itu.
Produktivitas yang Terkikis Secara Halus
Doomscrolling jarang menghancurkan produktivitas dalam satu hari. Dampaknya lebih halus. Ia menggerus waktu dalam potongan kecil.
Sepuluh menit di sini. Lima belas menit di sana. Beberapa kali dalam sehari.
Akumulasi kecil ini jarang terlihat, tetapi terasa dalam jangka panjang. Fokus semakin dangkal. Energi mental cepat habis. Dan ketika waktu benar-benar dibutuhkan untuk pekerjaan penting, kita merasa sudah lelah.
Lebih jauh lagi, doomscrolling menciptakan ilusi perkembangan. Kita merasa sedang belajar, padahal hanya menyerap potongan informasi tanpa proses refleksi.
Informasi bukan transformasi.
Tanpa waktu untuk berpikir, menulis, atau menguji ide, informasi hanya menjadi kebisingan.
Mengembalikan Kendali atas Perhatian
Melawan doomscrolling bukan soal menghapus semua aplikasi sosial. Ini bukan tentang menjadi ekstrem. Ini tentang kesadaran.
Greg McKeown dalam Effortless mengingatkan bahwa energi kita terbatas. Jika kita terus menghabiskannya pada hal-hal yang tidak esensial, kita tidak punya cukup ruang untuk yang benar-benar penting.
Mungkin pertanyaannya bukan lagi, “Berapa lama saya membuka media sosial?”, tetapi, “Untuk tujuan apa saya membukanya?”
Apakah ini benar-benar riset?
Ataukah ini sekadar respons otomatis terhadap rasa tidak nyaman?
Produktivitas yang matang lahir dari kemampuan mengelola perhatian. Karena di era ini, perhatian adalah komoditas. Jika kita tidak memilih dengan sadar ke mana ia diarahkan, akan selalu ada sesuatu yang siap merebutnya.
Mungkin langkah kecil yang bisa kita lakukan hari ini sederhana: sebelum membuka aplikasi apa pun, berhenti sejenak dan bertanya, apa yang sebenarnya saya cari?
Karena waktu yang kita harapkan produktif sering kali tidak hilang dalam keputusan besar, tetapi dalam kebiasaan kecil yang dibiarkan tanpa makna.
Produktivitas sejati tidak hanya tentang menyelesaikan lebih banyak hal. Ia tentang menjaga kejernihan pikiran agar energi kita digunakan untuk sesuatu yang benar-benar bernilai.
Kalau kamu menemukan insight dari tulisan ini, bagikan di media sosial dan mention saya di @danielgurusinga. Bisa jadi refleksi ini membantu rekan profesional lain yang diam-diam merasa waktunya terseret tanpa arah.
Salam hangat,
Daniel Gurusinga
Productivity Coach & Sales Trainer
Newsletter
Dapatkan informasi menarik seputar selling, pengembangan diri, dan produktivitas melalui email. Gratis!




