(Bukan Diam-Diam Membuat Kita Cemas)
Awal tahun biasanya penuh semangat. Kita bikin resolusi, menuliskan target, dan merasa hidup akan lebih terarah. Tapi beberapa minggu—atau bulan—kemudian, banyak orang mulai menghindari goal yang sama yang dulu mereka tulis dengan penuh harapan.
Bukan karena malas.
Sering kali karena… rasanya berat.
Saya sering menemui orang yang sebenarnya tahu apa yang ingin dicapai, tapi setiap kali mengingat goal-nya, yang muncul justru rasa sesak. Seperti ada tekanan di kepala. Akhirnya, goal itu pelan-pelan dihindari. Tidak dibatalkan, tapi juga tidak benar-benar dikerjakan.
Padahal, goal seharusnya membantu kita fokus. Bukan membuat kita cemas.
Kenapa Punya Goal Itu Membantu Produktivitas?
Orang yang punya goal yang jelas biasanya lebih produktif. Bukan karena mereka bekerja lebih lama, tapi karena mereka:
- tahu arah,
- tahu apa yang penting dan apa yang bisa ditunda,
- dan tahu kapan sebuah usaha “cukup”.
Bekerja tanpa goal itu seperti duduk di meeting panjang tanpa agenda. Kelihatannya sibuk, tapi pulangnya bingung: barusan ngapain ya?
Goal memberi kita ujung. Dan manusia butuh ujung supaya bisa mengatur energi.
Ketika SMART Goal Tidak Lagi Terasa “Smart”
Banyak dari kita mengenal konsep SMART goal—Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound—yang diperkenalkan oleh George T. Doran pada awal 1980-an. Konsep ini membantu kita membuat target yang lebih jelas dan terukur. Dan memang, ini fondasi yang sangat baik.
Namun dalam praktik coaching, saya sering melihat satu hal menarik:
goal sudah SMART, tapi orangnya tetap tertekan.
Bukan karena konsepnya salah, melainkan karena ada satu hal yang belum disentuh: kesiapan kapasitas diri.
Kita bisa menetapkan goal yang spesifik dan terukur, tapi jika target itu jauh di atas kemampuan, kebiasaan, dan ritme hidup kita saat ini, tubuh dan pikiran akan meresponsnya sebagai ancaman. Yang muncul bukan fokus, tapi kecemasan.
Tiga Zona dalam Goal Setting
Comfort zone
Target terlalu mudah. Aman. Tapi hampir tidak ada pertumbuhan.
Growth zone
Target cukup menantang. Kita perlu belajar, menyesuaikan diri, dan naik level—tapi masih terasa mungkin dicapai.
Anxiety zone
Target terasa terlalu besar. Belum mulai saja sudah lelah. Yang muncul bukan energi, tapi keinginan untuk menghindar.
Banyak orang menetapkan goal dengan niat baik, bahkan sudah SMART, tapi tanpa sadar langsung menaruhnya di anxiety zone. Di sinilah goal yang seharusnya memotivasi justru menjadi beban mental.
Goal yang Baik Itu Menekan, Tapi Tidak Melumpuhkan
Goal yang sehat bukan yang membuat kita terlihat ambisius di atas kertas, melainkan yang mendorong pertumbuhan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Tekanan itu perlu. Tapi tekanannya harus optimum—cukup untuk membuat kita bertumbuh, bukan sampai membuat kita berhenti bergerak.
Kalau setiap mengingat goal kamu merasa:
- sedikit tertantang → itu wajar
- tapi sangat cemas sampai ingin menghindar → itu sinyal untuk menyesuaikan
Karena pada akhirnya, goal bukan hanya tentang apa yang ingin kita capai,
melainkan tentang siapa diri kita yang sedang dibentuk di sepanjang prosesnya.
Kalau kamu menemukan insight dari tulisan ini, bagikan di media sosial dan mention saya di @danielgurusinga.
Salam hangat,
Daniel Gurusinga
Productivity Coach & Sales Trainer
Newsletter
Dapatkan informasi menarik seputar selling, pengembangan diri, dan produktivitas melalui email. Gratis!




